Review Kimi No Na Wa: Film Atau Video Musik?

Anna Muttaqien View: 2086

Siapa yang belum dengar Kimi No Na Wa (your name)? Film animasi besutan sutradara tenar Makoto Shinkai ini digadang-gadang sebagai film terbaik keluaran Jepang tahun 2016 yang jadi hits dimana-mana, menyaingi sederetan produksi Hayao Miyazaki dari studio Ghibli pendahulunya, bahkan masuk daftar kandidat nominasi OSCAR untuk Best Animation Feature.

Kimi No Na Wa ditayangkan di Indonesia mulai minggu lalu. Penulis pun ikut duduk di kursi penonton, mengantisipasi kisah yang memikat. Berikut review-nya.

 

Animasi Smooth, Narasi Jenaka Berbumbu Metafor

Cerita Kimi No Na Wa mengangkat tema Body Swap. Plot utamanya mengisahkan bagaimana suatu hari Mitsuha, seorang siswi SMA yang tinggal di sebuah kota kecil, menyadari adanya hari-hari yang hilang dari ingatannya, demikian pula dengan Taki, seorang siswa SMA di Tokyo. Belakangan keduanya mendapati kenyataan bahwa mereka bertukar tubuh secara acak setelah terbangun dari tidur.

Dari situ, dimulailah berbagai adegan lucu yang mengundang tawa tentang bagaimana keduanya harus menghadapi hari-hari dengan "properti tubuh" berbeda gender. Lebih dari itu, mata keduanya pun terbuka akan bermacam hal yang selama ini berada di luar pengalaman hidup mereka. Seperti bagaimana Mitsuha yang memimpikan untuk suatu hari kelak pergi ke Tokyo jadi disadarkan akan tuntutan kerja keras demi uang di kota besar setelah menjalani kerja sambilan Taki. Demikian pula dengan Taki yang selama ini terkungkung oleh menara beton jadi mengetahui keragaman budaya dan keindahan alam yang tak pernah dilihat sebelumnya.

Pemandangan alam indah dan narasi memikat tadi dikemas dalam goresan animasi yang smooth dengan metafor-metafor khas Makoto Shinkai. Diantaranya bintang jatuh sebagai perlambang pengharapan, jalinan tali temali sebagai hubungan antar manusia, dan kereta api sebagai simbol cinta yang jauh. Kimi No Na Wa bisa dikatakan superb hingga titik ini.

Sayangnya, perkembangan selanjutnya kurang memancing rasa. Bahkan mungkin, bagi sebagian pihak, bikin mengantuk.

 

"Siapa Kamu?"

Dalam perjalanan mencapai klimaks Kimi No Na Wa, ada terlalu banyak seruan "Siapa Kamu?", muncul time loop yang tak jelas ujung pangkalnya, dan alur plot yang terlalu kental dibalut unsur supernatural. Karakter tokoh-tokohnya pun gagal berkembang, bahkan setelah mengalami begitu banyak hal di bagian pertama film. Hal-hal gaib yang tak bisa dijelaskan dengan logika dijadikan landasan bagi plot utama Body Swap tadi, sehingga menyisakan pertanyaan ketika ketika Ending Credit mulai berjalan, "Sebenarnya, bagaimana Taki dan Mitsuha bisa Body Swap?"

Dari sisi Mitsuha, dikiaskan bahwa pengalaman yang sama telah turun menurun terjadi di keluarga ibunya. Momen bintang jatuh langka dirujuk sebagai titik pertautan jalan hidup Mitsuha dan Taki. Namun, diantara jutaan umat manusia yang menyaksikan momen tersebut, kenapa mesti Taki!? bagaimana bisa Taki!?

Satu-satunya penyelamat dalam kekalutan bagian akhir Kimi No Na Wa boleh jadi hanyalah lagu-lagu RADWIMPS. Kabarnya, mereka diminta secara khusus oleh Shinkai untuk menggubah lagu khusus bagi Kimi No Na Wa guna "melengkapi dialog atau monolog karakter-karakternya". Namun sebagai penonton, kesannya malah sebaliknya. Adegan-adegan dalam film ini seakan merupakan video musik bagi lagu-lagu tersebut, karena plot dan karakter terlalu lemah.

 

Masih Kalah Dari Miyazaki Dan Hosoda

Sebagai buah tangan Makoto Shinkai yang di awal debutnya melahirkan masterpiece seperti 5 Centimetre Per Second dan The Place Promised In Our Early Days, Kimi No Na Wa menjadi mengecewakan. Jika dibandingkan dengan film-film menggugah hati sekaligus memanjakan mata yang dibesarkan oleh para pendahulunya, Hayao Miyazaki dan Mamoru Hosoda, Makoto Shinkai jelas masih jauh, meskipun perolehan box office-nya mampu bersaing.

Terlepas dari itu, Kimi No Na Wa tetaplah sebuah film yang indah dan menandai keunggulan animator-animator Jepang. Tatanan transisi gambar dan metafor menuturkan lebih dari sekedar kata-kata serta bauran lagu-lagu ear-catchy, membuat film ini layak dinikmati siapa saja, baik penyuka animasi maupun orang kebanyakan, penggemar drama ataupun bukan.

Story: 7/10
Art: 10/10
Sound: 10/10
Character: 6/10
Feel: 7/10
Overall Score: 8/10

Anna Muttaqien

Kontributor sekaligus editor di Sinemapedia. Hobi menulis, membaca, nonton, plus nggosip apa saja yang hubungannya dengan Asia dan Jepang. Mulai suka anime dan manga sejak tahun 90-an, berlanjut sampai sekarang.

Lihat profil selengkapnya






Artikel Lain
Review Film




Berita Popular




Review Pembaca
ivan menulis "."
Di Review Film HIGH & LOW THE MOVIE 3: Final Mission >>
kevin menulis "ini di indo perkiraan masuk kapan ya "
Di Review Film HIGH & LOW THE MOVIE 3: Final Mission >>
Jakli Blythe menulis "katnya bluraynya mau keluar bulan februari lah sekaranh udah maret masih blom kluar juga hadeh"
Di Review Film HIGH & LOW THE MOVIE 2: End Of Sky >>
Dimas yosua cahyo menulis "Gimana yaa cara nonton high & low yg ini,,  saya penasaran sama kelanjutan film nyaa,,  tolong kasih link plis"
Di Review Film HIGH & LOW THE MOVIE 2: End Of Sky >>