The Jungle Book: Main Ke Hutan Tanpa Masuk Hutan

Nadia Sabila View: 3485

The Jungle Book, tak salah jika film ini banyak direkomendasikan oleh para penikmat film di seluruh dunia karena memang menyajikan pengalaman efek visual yang luar biasa. Saya membuktikannya sendiri saat menonton The Jungle Book dalam versi 3D di IMAX; Setting latar belakang yang tampak nyata serta visualisasi tokoh-tokoh hewannya sangat detail dan hidup, membuat kita seolah bisa menjelajahi hutan tanpa perlu khawatir diterkam sungguhan oleh hewan-hewan buas.

 Nah, untuk Anda yang sama sekali belum mengetahui The Jungle Book ini ceritanya tentang apa, tapi penasaran ingin tahu sedikit sebelum menontonnya, saya akan ceritakan sedikit cuplikannya dan sedikit "teaser" The Jungle Book dari segi cerita dan penokohan, segi visualisasi, dan segi umum.


Mowgli Beda Dengan Tarzan

Film ini bercerita tentang seorang anak manusia bernama Mowgli (Neel Sethi) yang dibesarkan di hutan belantara. Jika ada yang tanya, lalu apa bedanya dengan Tarzan? Mowgli dibesarkan oleh kawanan serigala, sedangkan Tarzan diasuh oleh sebangsa gorila.

mowgli_tarzan

Selain itu, fokus cerita The Jungle Book adalah moral tentang fitrah manusia yang disampaikan melalui bocah Mowgli sebelum ia sampai dewasa, sedangkan fokus Tarzan adalah romansanya saat ia beranjak dewasa.

Ada nama Rudyard Kipling yang dilibatkan di sini. Jadi, untuk kualitas cerita sebetulnya memang sudah tak perlu disangsikan lagi. The Jungle Book ditulis oleh penulis peraih nobel sastra asal Inggris tersebut pada tahun 1894 dan sudah berkali-kali diadaptasi ke dalam bentuk film anak-anak oleh beragam produser sejak tahun 1942; Mulai dari bentuk film aksi petualangan yang diperankan oleh manusia, versi kartun pada tahun 1967, hingga versi 3D seperti di tahun 2016 ini.


Petualangan Mowgli Dimulai...

Suatu hari Mowgli harus memisahkan diri dari kawanan serigala yang membesarkannya, karena Shere Khan, seekor harimau jahat yang ditakuti para penghuni hutan, mengetahui keberadaan manusia di tengah kawanan hewan dan mengincar Mowgli. Menurut Shere Khan, manusia tidak pantas berada dalam hutan dan harus dibunuh. Khan mengancam kelompok serigala jika terus melindungi bocah itu dan tak mau menyerahkan Mowgli padanya.


Akeela, sang pemimpin kawanan serigala yang sekaligus berperan sebagai ayah Mowgli sempat beradu pendapat dengan Raksha, istrinya, yang sangat menyayangi Mowgli, saat memutuskan apakah Mowgli harus meninggalkan kawanan atau tidak. Namun akhirnya Mowgli sendiri yang memutuskan untuk mundur dari kawanan serigala dan mencari kelompok lain.

Bagheera, macan kumbang yang pertama kali menemukan bayi Mowgli dulu, menemani Mowgli yang pergi dari serigala dan mengarahkannya agar kembali ke desa manusia dan berkumpul bersama manusia seperti seharusnya. Mengetahui maksud Bagheera yang ingin mengembalikannya ke kumpulan manusia, Mowgli menolak. Ia bersikeras untuk tinggal di hutan saja.

Dari sinilah petualangan Mowgli di hutan dimulai. Mulai dari bertemu dengan Kaa, ular phyton penghipnotis yang membeberkan bagaimana sejarah Mowgli bisa sampai di hutan dulu, bertemu dengan Baloo si beruang madu konyol tapi baik hati, menyelamatkan anak gajah, hingga diculik oleh kawanan monyet pimpinan King Louie yang terobsesi pada api yang mereka sebut dengan "Bunga Merah".


Mowgli Dan "Satwa-Satwa Bersuara Seleb"

Pemilihan Neel Sethi sebagai pemeran Mowgli saya kira merupakan pemilihan yang tepat. Wajah India-Amerikanya yang masih cukup kental dan gerakan yang lincah, memperkuat karakter Mowgli sebagai "bocah hutan". Selain itu, bocah 12 tahun ini, dalam The Jungle Book, didampingi oleh satwa-satwa hutan yang disulih suarakan oleh aktris-aktris ternama.

Sebut saja Bill Murray yang men-dubbing Baloo, sang beruang madu kocak yang pintar bernyanyi. Scarlett Johansson, yang biasanya menjadi tokoh utama dalam film, dalam The Jungle Book ini muncul beberapa menit saja sebagai suara dari Kaa, sang ular phyton yang "menggoda".

Ben Kingsley, sang "Gandhi", mengisi suara Bagheera, si macan Bengali yang menjaga Mowgli. Idris Elba juga turut menjadi pengisi suara tokoh antagonis, Shere Khan. Elba juga diketahui menjadi pengisi suara film animasi lain yang cukup laris bulan lalu, Zootopia.


Nonton Macan Berkelahi Di Depan Mata

the_jungle_book_2016Tak semua film The Jungle Book sukses di pasaran maupun ajang penghargaan. Namun, ada keyakinan dalam diri saya bahwa The Jungle Book tahun 2016 ini akan menjadi The Jungle Book yang paling diperhitungkan sepanjang masa karena merupakan salah satu manifestasi karya seni yang digarap dengan serius, matang, dan teliti.

Latar belakang hutan dan segala isinya digambarkan sangat detil dalam film ini. Akar-akar gantung, sungai, bebatuan, api, semua tampak nyata dibalik kacamata tiga dimensi yang saya pakai. Hewan-hewannya pun tampak benar-benar ikut memainkan peran mereka masing-masing. Perkelahian antara harimau dengan macan Bengali pun tampak alami.

Namun, yang sedikit membuat saya bingung adalah di negara mana sebenarnya latar belakang The Jungle Book ini ingin ditekankan. Dari nama-nama tokoh, lokasi hutan The Jungle Book ini seperti berada di India. Namun, dari penampakan manusianya, saya rasa lebih dekat ke Timur Tengah atau Arab. Sebagian setting-nya mengingatkan saya pada tanah Afrika.

Meski demikian, saya kira kebingungan saya itu bukan masalah. Pendeknya, visualisasi 3D film yang digarap dengan studio yang sama dengan film The Pirates of Carribean ini sudah terbilang halus dan rapi.


The Jungle Book: Memanusiakan Manusia

Secara umum, film ini saya kategorikan sebagai "film semua umur sejati". Tak perlu khawatir mengajak anak Anda untuk menonton karena amanat cerita The Jungle Book sangat baik dipahami oleh anak-anak maupun dewasa. Adegan perkelahian hanya dilakukan oleh hewan dan yang penting, sama sekali tak ada unsur pornografi. The Jungle Book adalah film yang membuat kita berpikir ulang tentang fitrah kita sebagai manusia, makhluk yang disempurnakan dengan akal.

Akhir kata, jika Anda yang pernah bermimpi untuk bertualang di hutan rimba tanpa harus benar-benar ke hutan rimba, The Jungle Book-lah jawabannya.

Nadia Sabila

Mantan anggota teater di kampus dan suka menonton film animasi Barat, drama, komedi, dan sci-fi. Meski bertampang sangar, ia kurang berminat pada film yang banyak mengandung adegan-adegan mengagetkan dan sadis. Kadang suka salah fokus lebih memperhatikan soundtrack-nya daripada film-nya.

Lihat profil selengkapnya



Komentar: 1




Artikel Lain
Review Film




Berita Popular




Review Pembaca
ivan menulis "."
Di Review Film HIGH & LOW THE MOVIE 3: Final Mission >>
kevin menulis "ini di indo perkiraan masuk kapan ya "
Di Review Film HIGH & LOW THE MOVIE 3: Final Mission >>
Jakli Blythe menulis "katnya bluraynya mau keluar bulan februari lah sekaranh udah maret masih blom kluar juga hadeh"
Di Review Film HIGH & LOW THE MOVIE 2: End Of Sky >>
Dimas yosua cahyo menulis "Gimana yaa cara nonton high & low yg ini,,  saya penasaran sama kelanjutan film nyaa,,  tolong kasih link plis"
Di Review Film HIGH & LOW THE MOVIE 2: End Of Sky >>